• gita galantari

Memimpin dengan Kata untuk Aksi Nyata

Diperbarui: 4 Apr 2020


Pemimpin menginginkan audiens-nya melihat etos yang positif dari nada bicaranya, melihat mereka percaya diri, dan yakin dan percaya pada mereka. Memimpin terbaik bukan hanya dengan aksi, namun juga dengan kata-kata. Salah satunya seperti Margareth Thatcher yang menggunakan suara aktif, bicara dengan jelas dan percaya diri, dan menghindari kata-kata jeda atau kata-kata lain yang membuatnya tampak tidak yakin atau netral pada kebijakan yang ia ingin implementasikan. Bahasanya langsung dan persuasif.

Jenis saluran yang semakin banyak saat ini membuat pemilihan gaya yang paling pantas untuk berkomunikasi menjadi lebih rumit. Seperti misalnya, bahasa dalam email sering tampak tidak personal seperti yang kita maksudkan. Menggunakan bahasa pemimpin secara efektif melibatkan lebih dari hanya pemahaman gaya komunikasi tradisional, nada, pilihan kata, dan gaya namun juga dipengaruhi oleh perubahan teknologi. Media dan pesan saling terjalin, dengan medium secara kuat mempengaruh bagaimana audiens melihat nada kita dan tujuan dari pesan kita. Untuk menguji gaya kita sendiri, kita bica mencoba untuk mengevaluasi diri dan melihat secara kritis pada sesuatu yang telah kita tulis. Posisikan diri sebagai audiens yang akan menerima pesan.

Pada dasarnya tujuan komunikasi profesional yaitu untuk memberikan informasi, untuk mempengaruhi atau membujuk, untuk memberi instruksi, atau untuk memperat hubungan. Jika kita tidak menyampaikan pesan dalam beberapa kata, kita beresiko kehilangan audiens, khususnya di media komunikasi instant yang kita gunakan sehari-hari. Seperti bicara, menulis yang jelas pun harus langsung pada tujuan, bebas dari jargon, angkuh, dan bebas kontruksi bertele-tele.

Pemimpin yang dapat menyampaikan pesan dengan efektif dapat menularkan, menggerakan, dan membangkitkan kinerja terbaik dari tim. Pemimpin itu pembaca, pembicara, dan penulis yang handal. Menyampaikan pesan melalui kata-kata dengan yakin sangatlah penting, tentunya kata-kata tersebut haruslah merujuk pada aksi nyata. Memimpin dengan kata-kata, hingga realisasi menjadi kerja nyata.

Source : Leadership Communication, Chapter 3 “The Language of Leaders”


5 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua