• gita galantari

Metropole

Diperbarui: 5 Apr 2020


Gedung bioskop ini dibangun pada tahun 1932 dengan nama Bioscoop Metropool, sesuai dengan ejaan bahasa Belanda pada waktu itu. Pada 1960, mengikuti perintah Presiden Soekarno (1901-1971), bioskop Metropole mengganti namanya yang berbau asing menjadi bioskop Megaria. Sampai sekarang orang-orang banyak yang tetap menyebut tempat ini sebagai bioskop Megaria.

Ceritanya sih pengen merasakan sensasi berbeda pergi ke bioskop aja, yang biasanya masuk mall untuk menuju bioskop. Tampak luar memang bangunan lama dengan arsitektur ala zaman Belanda masih ada di Indonesia. Begitu masuk untuk membeli tiket yang terlihat adalah interior standar ala jaringan XXI atau cineplex lainnya. Karpet, kursi, poster-poster film, popcorn, mba XXI yang seperti biasanya ditemui dengan seragamnya, layar tv, semuanya sama.

Masuk ke dalam studio, layar bioskop lebar seperti semestinya (yaiyalaaahh), undakan atau level kursi tidak terlalu tinggi bisa dibilang rendah dibandingkan dengan studio XXI yang biasanya saya kunjungi di Mall. Suasana di dalam bisokop cukup berbeda, saya sih suka. Menarik bisa menikmati suasana berbeda menonton film di Bangunan Cagar Budaya Kelas A.

Tetapi karena terbiasa keluar bioskop di Mall yang langsung bisa liat-liat ini itu atau makan ini itu jadi agak repot yah. Harus pindah tempat deh untuk menghabiskan waktu seusai nonton.


Bioskop Megaria 21 dahulu kala


*dari berbagai sumber

#Bioskop

1 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua